Penyataan diri Allah kepada manusia dinyatakan dalam 2 cara berbeda:
Dalam Alam dan dalam Alkitab
Seringkali orang kristen menyatakan penyataan alam tidak mencukupi, seolah-olah terdapat cacat dalam pernyataan alam tentang Allah itu. Hal itu terlihat dari bukti-bukti yang diberikan manusia untuk menyatakan keberadaan Allah melalui alam.
- Dari dunia yang demikian ajaib ini dan demikian dalam untuk dapat diselidiki oleh pikiran manusia, juga faktor sebab-akibat didalamnya, kita bisa berbendapat tentang kemungkinan adanya Penyebab Yang Luar Biasa.
- Kalau memperhatikan keteraturannya, bulan, bumi, matahari dan galaksi berputar pada aturannya, pastilah ada Perancang Yang Memiliki Intelegensia yang mengatur semua ini.
- Pengaturan dunia dengan hukum-hukum moral yang menghindari penghancuran terhadap manusia itu sendiri, pastilah adanya kemungkinan Pemberi Hukum Moral.
Juga kemungkinan-kemungkinan argumentasi lainnya yang dapat diberikan. Perpaduan dari berbagai macam argumentasi diatas dan argumentasi lainnya, diharapkan dapat meyakinkan orang-orang yang belum percaya akan adanya suatu kemungkinan Allah yang bereksistensi. Kemudian orang kristen dapat melangkah lebih lanjut lagi, kalau memang Allah itu ada / eksis, maka ada kemungkinan Allah itu adalah Allah dari Alkitab.
Pembuktian seperti ini sepertinya memang benar. Ketika kemungkinan eksistensi Allah telah terbukti, bukti-bukti lebih lanjut yang mendukung bahwa Allah itu memang ada bisa diberikan. Dengan argumentasi ini maka, syarat-syarat pembuktian Allah memang ada itu ditentukan oleh manusia itu sendiri. Manusia yang mengukur, menilai, menentukan kemungkinan ada atau tidaknya Allah. Apakah demikian? Apakah manusia bisa lebih tinggi dari Allah dan menjadi penentu ada tidaknya Allah?
Seorang filsuf juga memberikan contoh sebagai berikut: Membuktikan Allah itu ada, sulit sekali. Tetapi membuktikan Allah itu tidak ada, jauh-jauh lebih sulit.
Semua fakta-fakta alam untuk membuktikan keberadaan Allah itu ada dimulai dari presuposisi bahwa Allah itu tidak ada. Kemungkinan terbesar dari fakta-fakta alam ini untuk dapat diterima oleh orang-orang yang belum percaya hanyalah melangkah pada kesimpulan “suatu Allah mungkin ada“.
Bagaimanakah yang sebenarnya?
Alam sudah cukup menyatakan tentang Allah itu sendiri.
Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya…. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar (Maz. 19:2-3)
Sebenarnya alam sudah cukup menyatakan keberadaan Allah. Dengan melihat alam, kita bagaikan melihat cermin yang menyatakan keberadaan Allah itu sendiri.
Tetapi kenapa manusia tidak mampu melihatnya?
Dosa menyebabkan manusia tidak mampu lagi melihat alam ciptaan sebagai cermin jernih, yang melaluinya Allah bisa terlihat dengan jelas.
Iya mas, dan alam tidak hanya benda namun juga manusia di dalamnya.
Kalau kita melihat lewat kacamata biru, semua hal disekitar kita akan kelihatan kebiru-biruan dan tidak mengenali warna aslinya.
Susah rasanya bercermin dari alam sekitar jika kita masih memakai kacamata golongan, label, kebencian, kefanatikan dsb. Yang akan kita lihat mungkin hanya gagasan di kepala kita dan bukan alam itu sendiri. Mawar bukanlah mawar, coklat bukanlah coklat, namun yang kita lihat mungkin apa yang pikiran kita ingin lihat.
Gitu ndak yah …
Yes, tepat sekali. Senang mendengar jawaban Sigit. Tuhan memberkati.