Dalam akal budi manusia, penyataan Allah mengalami penafsiran ulang dalam suatu kesadaran diri. Tugas manusia adalah menyadari semua makna yang telah Allah tempatkan dalam alam semesta ini. Manusia memulai tugas ini (Kej.19-20). Manusia menggunakan kemampuan investigasi yang telah Allah berikan untuk mendapatkan makna yang sebenarnya (yaitu yang telah ditanamkan Allah) dari alam. Ketika Adam “memberikan nama” bagi sesuatu di alam ini, dia hanya membaca “nama” (makna) yang telah ditempatkan disana oleh Allah.
Akan tetapi, kita harus memperhatikan bahwa bahkan sebelum kejatuhan manusia kedalam dosa, Allah telah menyatakan diri-Nya dalam firman maupun alam. Alam menyatakan segala sesuatu yang diperlukan Adam untuk memiliki pengetahuan yang benar tentang natur Allah dan dunia. Tapi bagaimana Adam bisa mengetahui apa yang seharusnya menjadi kehendak dan tujuan diri sendiri? Jawabannya adalah: hanya dengan penyataan khusus (firman).
Agar manusia menjadi gambar (image) dan rupa (likeness) Allah diperlukan dua hal yang esensial. Keberadaannya haruslah seperti keberadaan Allah, dan kehendak atau tujuannya juga haruslah seperti kehendak dan tujuan Allah. Keberadaan Allah bukanlah suatu “pilihan.” Keberadaan manusia juga bukan suatu pilihan. Manusia adalah gambar Allah. Menjadi sesuatu yang lain dari itu berarti menjadi sesuatu yang bukan manusia. Selama manusia adalah manusia, ia bereksistensi dalam gambar Allah. Maka eksistensi manusia adalah sedemikian rupa sehingga memastikan adanya suatu perasaan akan keilahian di dalam dirinya. Semua manusia mengenal Allah, Allah yang sejati, Allah yang esa. Manusia bukan hanya memiliki kapasitas untuk mengenal-Nya, melainkan sungguh-sungguh mengenal-Nya, dan tidak mungkin menghindar dari pengenalan akan Dia.
Akan tetapi, tujuan manusia merupakan suatu pilihan. Sebagaimana Allah bebas untuk betindak sesuai kehendak-Nya, maka manusia (yang diciptakan seturut gambar Allah) juga bebas untuk bertindak sesuai kehendaknya. Tapi bahkan dalam kebebasan kehendaknya sekalipun, manusia tidak bisa lepas dari kendali absolut Allah karena keberadaan manusia (yang hanyalah gambar Allah) secara mutlak tergantung kepada Allah. Dengan menghendaki hal yang bertentangan dengan kehendak Allah yang dinyatakan melalui Firman-Nya, manusia hanya bisa melanggar, tetapi tidak pernah bisa menghancurkan hubungan ketergantungannya kepada Allah. Secara metafisis, manusia merupakan gambar Allah, tetapi secara etis dia bukan lagi rupa Allah. Keputusan manusia untuk terlepas dari ketergantungannya pada Allah berakhir dalam kehancuran dan manusia senantiasa diingatkan akan hal ini melalui penyataan alam. Penyataan alam terus-menerus menyatakan kepada manusia yang berdosa fakta bahwa Allah sejati ada, dan bahwa eksistensi manusia secara mutlak bergantung kepada Allah. Karena itu, untuk terus memberontak terhadap Allah, manusia hanya bisa membohongi dirinya tentang hal ini. Manusia harus menindas kebenaran ini dengan ketidakbenaran (Rm.1:18). Tapi tindakan untuk menindas kebenaran ini (yang dengannya manusia berdosa menolak untuk mengenal dirinya sendiri dan Allah secara benar) sepenuhnya dikarenakan dosa, dan bukan dikarenakan kurang cukupnya atau adanya cacat di dalam penyataan Alam.
Manusia harus menindas kebenaran ini dengan ketidakbenaran (Rm.1:18).
aku kurang mengerti dengan ini
bisa jelasin lebih jauh lagi?
Sepertinya, tulisan lanjutannya hingga akhir (ayat 32) merupakan penjelasannya.
Salam.
cepet sekali hehe thx
um maksudnya berhala?
Yes, salah satunya.
Uraian ayat dibawahnya menjelaskan secara lengkap. Artinya, mereka sudah tahu itu salah dan melanggar kebenaran Allah, tetapi mereka tetap saja dengan sengaja melakukannya.
@Iman Kristian
“Manusia adalah Gambar Allah”????
Tak masuk akal, falsafah Kristian saya tak dapat terima, pada saya kefahaman saudara tentang Tuhan umpama “Khayalan”.
Salam untuk saudaraku penghibur.
He he he…., anda lucu.
Saya akan memberikan anda respon di:
Diskusi Iman Kristen – I (Atau DIK-I).
Harap kesana.
Salam.
@penghibur.
Anda berkata bahwa anda ada urusan selama 3 minggu.
Kenapa posting di sini..?
Jangan berkelit yaa?
silahkan jawab pertanyaan saya di agamaku.wordpress.com.
salam
Berbahagialah orang yang terus bertanya tentang Kekristenan ,sebab merekalah yg nantinya akan mejadi saksi2 Kristus.