Ketika mengatakan kualitas-kualitas ini milik Allah, kita “mengatribusikannya” kepada-Nya. Karena itu kita menyebut kualitas-kualitas itu “atribut-atribut” Allah. Dan ada atribut-atribut yang tidak bisa di komunikasikan (incommunicable) karena hanya menjadi milik Allah saja dan tidak bisa dikomunikasikan Allah kepada ciptaan-ciptaan-Nya.
Kepemilikan atribut-atribut inilah (kekal, tidak terbatas, dan tidak berubah) yang membuat Allah berbeda dari semua yang lain. Ini berarti bahwa bukan saja Allah memiliki kualitas-kualitas yang tidak bisa dibagikan-Nya kepada yang lain, tapi juga kualitas-kualitas yang sesungguhnya – sampai batas tertentu – Allah berikan kepada ciptaan-Nya seturut kehendak-Nya. Karena itu Allah memiliki keberadaan (Kel.3:14), hikmat (Mzm.147:5), kuasa (Why.4:11), kekudusan (Why.15:4), keadilan, kebaikan, dan kebenaran (Kel.34:6-7). Namun begitu pula dengan ciptaan tertentu, dalam batas tertentu, yaitu manusia dan malaikat. Allah memiliki semua kualitas ini dalam tingkat yang tak terbatas. Ciptaan yang memiliki kualitas-kualitas ini hanya memilikinya secara terbatas.
Hal ini bisa dimengerti dengan bantuan sebuah ilustrasi. Peganglah sebuah cermin dihadapanmu. Kamu akan melihat bayangan dirimu. Sekarang perhatikan semua kualitas yang sama yang dimiliki olehmu dan bayanganmu! Dalam satu pengertian kualitas itu sama, namun, dalam pengertian lain, semua kualitas ini sebenarnya tidak sama. Karena kamu adalah keberadaan yang hidup, sedangkan bayanganmu tidak. Kamu memiliki eksistensi dalam tingkat yang sungguh berbeda dari bayanganmu. Kualitas-kualitas yang ada pada bayanganmu hanyalah bayangan dari kualitas-kualitas itu sendiri. Ada sebuah dimensi yang kamu miliki yang tidak dimiliki oleh bayanganmu.
Demikian juga halnya dengan Allah dan manusia, gambar-rupa-Nya. Semua atribut Allah memiliki tingkat yang lebih tinggi dari eksistensi yang mulia dan sempurna yang tidak dimiliki oleh atribut ciptaan yang kita miliki. Hikmat yang dimiliki Allah (juga kuasa, kekudusan, keadilan, dll.) adalah kebijaksanaan yang tidak terbatas, kekal dan tak berubah. Tetapi kebijaksanaan kita yang terbatas, sementara, berubah-ubah, sesungguhnya hanyalah bayangan dari Atribut Allah. Oleh karena itu kita harus berhati-hati, yaitu bahwa dalam membicarakan atribut-atribut Allah yang bisa dikomunikasikan, bukan berarti manusia setingkat dengan Allah dalam suatu hal apapun.
Allah merupakan Sumber asli yang agung. Segala sesuatu yang lain, dalam berbagai cara, hanyalah bayangan dari diri-Nya. Betapa sederhananya kebenaran ini. Tapi betapa jarang kita menemukan kebenaran ini dipertahankan secara konsisten dalam pemikiran manusia. “Seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang” (Kis.17:25). Seakan-akan manusia bisa mengerjakan sesuatu yang berguna bagi Allah (Ayb.22:2). Bukankah sudah jelas bahwa ciptaan tidak bisa melakukan hal yang lebih baik dari pada mencerminkan Allah sebagai gambar-Nya? Bagaimana bayangan menambahkan sesuatu kepada hal yang dia cerminkan? Maka kebenaran yang tak terbantahkan adalah bahwa hanya Allah saja yang dalam diri-Nya sungguh-sungguh merupakan “Sesuatu” (Something). Dan manusia (seperti juga ciptaan lain) dalam dirinya bukan merupakan apapun (nothing). Karena manusia secara mutlak tergantung pada Allah.
Karena hanya Allah yang memiliki eksistensi yang independen, bukankah jelas bahwa berkuasa atas semua ciptaan, untuk menjalankan kehendak-Nya melalui, untuk, dan pada mereka? Seakan-akan manusia – yang sebenarnya berasal dari Allah – bisa melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki Allah untuk terjadi. Bahkan kejahatan pun ada karena kehendak Allah untuk mengizinkannya, agar dengan cara ini kehendak kebenaran-Nya bisa benar-benar terwujud (Yes.45:7). Tapi ini berada dalam lingkup dekrit Allah, yang akan dibahas kemudian.
kenapa cume ada gambaran tiada gambar yang betul…
ko nie orang yang mabuk ke…
bertuhan yang palsu…
@ israel,
Hahahaha…seekor lagi anak keluaran sekolah pondok.
Membaca kitab suci orang lain seperti membaca kitab sucinya sendiri, dari kanan ke kiri.
Pantess kacau balau.
“Rupa gambar Allah” bermaksud pancaran sifat-sifat Allah yang dimiliki manusia seperti kebaikan, kemurahan, kasih sayang dll, ngerti? (kayaknya ngga sih)
Hahahaha (sambil ketawa-ketiwi meliat gelagat anak sekolah pondok)
Karena Yesus image Tuhan berjenis kelamin laki-laki, berjenggot dan ganteng………..
Karena Sapi sangat berguna image Tuhan menjadi sapi……
Karena Botak dan Buncit image Tuhan itu tambun……………
Karena bisa segalanya Tuhan itu digambarkan dengan bertangan banyak kayak kepiting…….
Karena penampakan putih dan botak maka image Tuhan itu Casper…….
APA BEDANYA KALIAN INI DENGAN PENYEMBAH BERHALA JAMAN MR. FLINSTONE DAN SUKU2 PEDALAMAN YANG JALAN BERPIKIRNYA SEMPIT DAN TERBATAS…..???
@ Irlander,
Yang dibahas ialah konsep ‘gambar rupa Allah” yang diciptakan Allah sebelum Adam@ manusia jatuh ke dalam dosa.
Kamu omong apa sih?
Ngga nyambung (kebiasaan anak pesantren)
Hahahaha…inilah akibatnya banyak membaca cerpen ketimbang kitab suci (masa lowong bermain otong)
Cisciscis…
Pantess kalian muslimm.
Terima kasih telah mengatakan saya ganteng.
Jadi malu tersipu-sipu dah saya.
tapi saya hanyalah manusia yang diutus Allah untuk bangsa Bani Israel.
@Cosmicboy
Orang oon memang perlu penjelasan yang agak panjang pak cek…….mungkin itu tak cocok buat pak cek……
@ Yesus @ Irlander,
Cerpen 1400 tahun yang lalu.
Hahahaha (sambil ketawa-ketiwi makan satay babi).