Pada awalnya manusia memiliki kepribadian yang tidak berdosa. Dia hanya menghendaki hal yang baik dan menyenangkan Allah. Dan dia bebas melakukan itu sesuai keinginannya. Dan karena naturnya secara keseluruhan tidak tercemar, maka keinginannya selalu tertuju pada hal yang baik. Dia memiliki kebebasan mutlak dan kemampuan untuk melakukan hal yang baik. Kemerdekaan yang dimilikinya sama dengan kemerdekaan manusia sesudah kejatuhan, tetapi dia memiliki kemampuan yang sama sekali tidak dimiliki manusia sesudah kejatuhan.
Iman Kristen mengakui, dengan masuknya dosa, manusia kehilangan kemampuan untuk melakukan yang baik, bukannya kebebasan. Karena ini sesuai dengan peringatan Allah bahwa dengan satu dosa sudah cukup untuk menghancurkan natur murni yang menjadi sumber dari mana buah tindakan yang baik berasal. Sebelum kejatuhan, manusia memiliki kebebasan untuk melakukan yang baik maupun yang jahat dan mampu untuk melakukan keduanya. Setelah kejatuhan kedalam dosa, manusia tetap bebas untuk melakukan yang baik ataupun yang jahat, tetapi hanya mampu untuk melakukan yang jahat. Sekarang “segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (Kej.6:5, dan bdk. 8:21; 1Kor.2:14; Mzm.14 dan 53).
Nabi Yeremia menyatakan demikian “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakah kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?” (Yer.13:23). Manusia bahkan tidak mampu melakukan satu hal saja yang diperlukan untuk membawanya kepada keselamatan. Tidak seorangpun yang mampu datang kepada Kristus (Yoh.6:44). Tapi ini disebabkan oleh naturnya sendiri; dia tidak dihalangi untuk melakukan hal yang baik oleh kuasa atau pengaruh eksternal. Dia dihalangi oleh “hukum-hukum” dari karakter dirinya sendiri yang telah rusak.
Seperti mayat juga memiliki lengan, tangan, dan organ-organ lainnya, yang tidak lagi digunakan karena penggunanya telah mati, tetapi yang akan kembali digunakan ketika Allah membangkitkan tubuh itu ke dalam kehidupan, maka demikian pula bagi manusia. Manusia telah mati secara rohani. Dia hanya mampu melakukan yang baik saat dia dilahirbarukan sehingga dia memiliki hati yang benar untuk menghendaki dan melakukan hal yang diperkenan Allah (Ef.2:1 dst.; Yoh.3:3; Flp.2:13).
Mengapa ada manusia yang bertobat ada yang nggak ?
Mengapa ada manusia yang beragama A, agama B, C, dst ?
Kehendak Allah-kah atau kehendak manusia sendiri ?
@ Dan karena naturnya secara keseluruhan tidak tercemar, maka keinginannya selalu tertuju pada hal yang baik.
Kalau dengan Natur Murni manusia hanya bisa berkehendak yang baik, lalu bagaimana penjelasannya mengapa manusia pertama jatuh dalam dosa. ?
Mengapa malaikat juga bisa jatuh dalam dosa ?
Siapakah yang membuat dosa itu ?
Natur manusia awal bisa buat baik dan bisa tidak (kehendak bebas murni).
Sekarang kita punya kehendak bebas yang sudah tercemar.
Salam.