Tubuh manusia setelah mati kembali menjadi debu dan diserahkan kepada kebinasaan, tetapi jiwa mereka (yang tidak mati maupun tertidur), karena memiliki subsistensi kekal, secara langsung kembali kepada Allah yang memberikannya. Jiwa orang-orang benar dijadikan sempurna di dalam kekudusan, diterima ke dalam sorga tertinggi, di mana mereka memandang wajah Allah di dalam terang dan kemuliaan-Nya, sambil menantikan penebusan sempurna bagi tubuh mereka. Sedangkan jiwa orang-orang fasik dilemparkan ke dalam neraka dimana mereka tetap berada di dalam penyiksaan dan kegelapan, disimpan untuk penghakiman di hari terakhir.
Dengan prinsip ini kita mengakui:
- bahwa setelah kematian tubuh fisik semua manusia kembali menjadi debu dan mengalami kebinasaan,
- bahwa jiwa semua manusia memasuki Masa Antara (intermediate state),
- bahwa Masa Antara ini berbeda bagi orang benar dan bagi orang fasik.
Merupakan fakta yang didukung oleh pengalaman umum, dan juga merupakan ajaran Alkitab, bahwa “tubuh manusia setelah mati kembali ke tanah dan melihat kecemaran.” Sebagaimana telah difirmankan Allah kepada manusia yang jatuh kedalam dosa, “Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kej.3:19). Baik Alkitab maupun pengamatan kita tidak menunjukkan adanya perbedaan antara orang benar dan orang fasik dalam hal kondisi tubuh fisiknya setelah kematian. “Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan” (Kis.13:36), meskipun dia adalah seorang yang diperkenan hati Allah.
Sejauh menyangkut masalah tubuh, baik orang percaya maupun orang yang tidak percaya tunduk kepada konsekuensi Adam ke dalam dosa. Maut adalah akibat dari dosa. Upah dosa adalah maut, sehingga maut berkuasa atas semua orang yang telah berdosa.
Pertanyaan yang timbul adalah mengapa tidak ada perbedaan antara orang percaya dan orang yang tidak percaya dalam hal kematian fisik? Jawabannya adalah bahwa Allah berkenan untuk menunda manfaat dari karya penebusan Kristus bagi fisik manusia sampai akhir zaman. “Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut” (1Kor.15:26). Pada saat kebangkitan di akhir zaman, aspek fisik manusia akan diperbaharui, dan orang yang benar akan menerima tubuh yang diubahkan ke dalam kemuliaan yang serupa dengan tubuh kebangkitan Kristus (Flp.3:21). Orang fasik juga akan dibangkitkan, tetapi ke dalam kehinaan dan kecemaran, untuk menerima penghakiman yang adil terhadap dosa fisik maupun dosa jiwanya (2Kor.5:10).
Katanya fisik manusia jadi abu dan debu tanah setelah mati (kematian tubuh). Bagaimana kaitannya dengan penghakiman yang adil terhadap dosa fisik (dosa badani).
Dosa dalam pengertian saya adalah perbuatan melanggar hukum Tuhan dengan kesadaran. Tahu dan mau melakukannya. Dosa sangat berkaitan denga jiwa bukan dengan fisik. Lalu bagaimana membedakan dosa fisik dan dosa jiwa. Kurang paham ni.
Terima kasih Atekeo atas kunjungannya.
Allah menciptakan malaikat dalam bentuk roh saja.
Allah menciptakan manusia dalam bentuk roh dan daging.
Ketika manusia jatuh dalam dosa, keduanya mengalami maut.
Roh/jiwa sebelum kematian dapat ditebus dengan syarat percaya kepada Yesus Kristus.
Tetapi tubuh dosa akan diganti dengan tubuh kemuliaan setelah kita meninggal.
Salam.
Apa yang dimaksud dengan tubuh kemuliaan ?
Duh…bos – akujangan disuruh menunggu lagi dengan alasan soalnya postingan kamu belom lengkap ya ???
Asli aku nggak ngajak debat. Pengin tahu aja.
Bener. Suerr deh.
SALAM BOS.
Wah…, doktrin akhir jaman, masih satu episode.
Yah…, anda sabar saja menunggu. Tulisan saya sudah lebih dari 40. Cape juga nulisnya.
Kalau tulis cepat-cepat…, nanti tidak bermutu. Malah kalian tanyanya lebih banyak lagi.
Kalau tulisnya berpikir keras, dibilang lambat-lambat…
Dalam hal ini, anda nikmati saja dulu yang ada.
Salam.
Ps. Doakan saya untuk melanjutkan lagi seri katekikasi ini (atau anda mau memaksa saya? Saya harap tidak demikian).
Ngapain juga saya harus memaksa anda. Oke deh saya tunggu.
Tapi gini lho bos : Ini cuma saran lho ya, lo boleh setuju boleh tidak. Bagus juga kalo setiap postingan ada benang merahnya dengan postingan yang lain. Tetapi usahakan juga kalo setiap postingan tetap bisa dinikmati secara terpisah.
Dalam arti kalo anda posting soal X, maka wajar kan kalo ada orang menanggapi soal X. Lha kalo setiap kali anda posting terkait dengan postingan anda di masa depan. Itu tentu membuat postingan anda nggak bisa ditanggapi. Anda paham kan maksud saya.
Sekali lagi ini bukan pemaksaan, bos. Cuma saran saja.
akhir jaman? jaman yang mana? jurasic, pleistosin?
kitab suci ini ada-ada aja, membahas sesuatu yang gak jelas.