Yesus Adalah Nabi, Iman Dan Raja
Mei 2, 2008 oleh Iman Kristen
Nabi
Istilah “nabi” pertama kali dipakai Abraham (Kej.20:7). Tapi sejak awal sejarah, orang-orang tertentu berfungsi sebagai juru bicara bagi kebenaran Allah: Henokh (Yud.14; Kej.5:18), Nuh (2Pet.2:5; 1Pet.3:20-21), Ishak (Kej.27:28-29, 39-40), dan Yakub (Kej.49, khususnya ay.8-12) menjalankan tugas ini.
Musa merupakan tokoh pertama yang ditetapkan sebagai nabi dengan kuasa sebagaimana pemahaman kita sekarang tentang seorang nabi. Dan dalam Ulangan 18:15-20 Allah berjanji bahwa Musa akan dilanjutkan oleh sejumlah nabi, sampai akhirnya akan bangkit seorang Nabi utama (sepeti Musa) yang ucapan-Nya akan menjadi otoritas tertinggi. Keberlanjutan nabi-nabi memang terjadi sepanjang zaman Perjanjian Lama. Tapi perlu diperhatikan, tidak ada lagi nabi yang bangkit sejak Kristus, dan sejak Alkitab disempurnakan.
Imam
Istilah “imam” pertama kali disebutkan dalam hubungannya dengan tokoh Melkisedek yang misterius (Kej.14:18). Hal ini penting karena tidak terdapat catatan tentang awal maupun akhir dari tokoh ini. Dan nubuatan dalam Mazmur 110:4 ialah mengenai Yesus akan menjadi “imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.” Ini berarti Kristus memiliki kedudukan imam yang kekal dan tidak berubah (Ibr.7:24). Tapi bahkan sebelum munculnya tokoh Melkisedek, persembahan korban darah merupakan tugas “keimaman” (Kej.13:4; 22:13), demikian juga Ishak (26:25) dan Yakub (33:20; 35:7).
Akan tetapi, baru pada zaman Musa jabatan yang khusus (atau penugasan secara khusus) ini ditetapkan. Harun menjadi orang pertama yang memegang jabatan ini, dan tidak seperti jabatan nabi, jabatan imam bersifat warisan (Kel.29:29; Bil.25:12-13). Pengangkatan kepada jabatan ini adalah melalui “pengurapan.” Dan orang yang memegang jabatan ini harus dikuduskan (Kel.29:29-31), tidak cacat fisik (Im.21:16-23), dan mengenakan pakaian yang melambangkan kekudusan (Kel.29:29). Akhirnya, bagi jabatan ini juga dinyatakan tentang adanya kelanjutan oleh sejumlah imam sampai seorang Imam Agung bangkit, dan karyanya akan berjalan selama-lamanya (lihat 1Sam.2:35; Mzm.110:4).
Raja
Raja pertama dalam sejarah Israel adalah Saul. Sesungguhnya keinginan awal umat Israel untuk memiliki raja yang dapat dilihat oleh mereka merupakan tindakan yang dicela oleh Allah (1Sam.10:19). Akan tetapi, sejak permulaan sejarah, tugas khusus memerintah dalam ketaatan kepada kehendak Allah harus dilakukan dalam penundukan pada wahyu ilahi. Adam bertugas untuk memerintah (Kej.1:26), demikian juga Nuh setelah kejatuhan manusia di dalam dosa (9:2). Abraham adalah raja dalam arti dia dianggap setara dengan raja-raja lainnya (Kej.14:1-2; 13, 17-24). Istrinya disebut seorang putri (17:15) dan dari istri Abraham inilah dijanjikan suksesi raja-raja (17:16). Yakub menubuatkan bahwa tongkat kerajaan, lambang pemerintahan, tidak akan beranjak dari suku Yehuda sampai tibanya Sang Penguasa Agung (Kej.49:10). Karena itu, walaupun terdapat ketidaksetujuan ilahi terdapat keinginan bangsa Israel untuk memiliki raja, jelas penetapan monarki sesuai dengan rencana dan kehendak kekal Allah (1Sam.8:20, bdk. 8:22) tapi kemudian Allah menjanjikan garis keturunan Daud yang akan berhenti pada kedatangan Sang Raja Agung yang akan memerintah selama-lamanya (2Sam.7:12-16; Mzm.2, 45, 72 dan 110). Jabatan ini juga memerlukan “pengurapan” (dari tindakan inilah timbul kata “Mesias”).
Iman Kristen mengakui ketiga jabatan yang dipegang oleh Yesus Kristus tersebut.
God Bless You..
God bless you too…
gabung dong di JIL (jesusInLife)
Mungkin anda bisa bawa pencerahan disana…
GBU