Manusia tidak memiliki peran apa pun dalam kelahiran barunya. Dia hanya berada dalam posisi yang pasif. Dia tidak melakukan atau bertindak dalam lahir baru. Melainkan karya lahir baru dikerjakan atas dirinya dan sebagai hasilnya, dia memiliki hati atau akal budi yang lain. Kelahiran baru ini sering diasosiasikan dengan pengabaran Injil (dalam kasus umum), tetapi bukan injil yang mengerjakan kelahiran baru. Roh Kudus yang mengerjakannya.
Kita boleh memikirkan Firman Allah sebagai instrument yang dipakai Allah untuk mengefektifkan kelahiran baru itu, tapi kelahiran baru bukan dikerjakan oleh Injil sendiri, tetapi hanya oleh Roh Kudus yang berkehendak untuk berkarya melalui Injil itu.
Kelahiran baru menyebabkan perubahan yang mendasar dalam keseluruhan jiwa – rasio, emosi dan kehendaknya. Pada orang yang telah mengalami lahir baru, segera setelah lahir baru itu dia berpikir, merasakan, dan berkehendak dengan cara yang berbeda.
Dan karena demikian keadaannya, maka dia dengan rasa syukur menerima tawaran Injil. Maka panggilan Allah menjadi efektif. Panggilan Allah efektif dalam setiap kasus serupa. Setiap orang pilihan bertobat dan percaya. Dan dia melakukannya karena dia mulai menggunakan natur baru yang diciptakan atau ditanamkan melalui kelahiran baru. “Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah” (Rm.9:16). “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hari siapa yang dikehendaki-Nya” (9:18).
Armininisme menyimpang dari Alkitab dalam bagian ini dengan berupaya mengkondisikan karya Allah pada perbuatan manusia. Arminianisme mengajarkan bahwa Allah telah mengetahui terlebih dahulu siapa yang akan menerima injil-Nya. Kemudian, karena Allah telah mengetahui terlebih dahulu bahwa orang tertentu akan menerima Injil, maka Dia melahirbarukan orang itu pada waktunya.
Tetapi dengan demikian, kelahiran baru menjadi suatu upah yang semestinya diberikan dan bukan lagi suatu karunia yang memampukan. Terhadap pandangan ini, Paulus seharusnya mengatakan, “Jadi hal itu tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi tidak kepada kemurahan hati Allah.” Dan sesuai pandangan ini pula, “Allah akan menaruh belas kasihan kepada siapa yang wajib Dia berikan belas kasihan dan Ia tidak akan menegarkan hati siapa pun.”