Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Doktrin Kristus’ Category

Nabi

Istilah “nabi” pertama kali dipakai Abraham (Kej.20:7). Tapi sejak awal sejarah, orang-orang tertentu berfungsi sebagai juru bicara bagi kebenaran Allah: Henokh (Yud.14; Kej.5:18), Nuh (2Pet.2:5; 1Pet.3:20-21), Ishak (Kej.27:28-29, 39-40), dan Yakub (Kej.49, khususnya ay.8-12) menjalankan tugas ini.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Allah berkenan di dalam tujuan kekal-Nya untuk memilih dan menetapkan Tuhan Yesus, Anak-Nya yang tunggal, sebagai Pengantara antara Allah dan manusia; Nabi, Imam, dan Raja; Kepala dan Juruselamat Gereja-Nya; Pewaris segala sesuatu; dan Hakim atas dunia. Bagi-Nya Allah sejak segala kekekalan memberikan satu umat untuk menjadi benih-Nya, dan agar oleh-Nya ditebus, dipanggil, dibenarkan, dikuduskan, dan dipermuliakan pada waktu yang telah ditetapkan.

Bagian diatas mengajarkan kepada kita :

  1. bahwa Allah sejak kekekalan telah memilih sejumlah tertentu keturunan Adam untuk diselamatkan melalui karya penebusan Kristus,
  2. bahwa Allah dari kekekalan juga telah berjanji untuk memberikan kaum pilihan ini kepada Kristus sebagai imbalan bagi penderitaan-Nya,
  3. bahwa Kristus berkehendak untuk melakukan dan menderita semua yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu,
  4. bahwa karya mesianik ini memerlukan Kristus sebagai Nabi, Iman, dan Raja bagi kaum pilihan-Nya dan menjadi Kepala dan Juruselamat dari Gereja, dan
  5. bahwa Kristus adalah juga Pewaris dan Hakim atas dunia ini.

Kristus disebut Adam kedua, atau lebih tepat lagi, “Adam terakhir” (1Kor.15:45). Hal ini dikarenakan fakta bahwa Adam adalah orang pertama dan Kristus orang terakhir dalam sejarah umat manusia yang menjadi kepala kovenan, atau pribadi yang mewakili seluruh umat manusia. Dia datang untuk memulihkan kembali apa yang telah dikerjakan Adam dan melakukan bagi umat-Nya apa yang gagal dilakukan Adam. Ketika Adam belum berdosa, dia memiliki pikiran yang jernih, hati yang murni, dan kehendak yang benar.

Dalam pengertian Iman Kristen ini, tepat kalau Adam disebut sebagai nabi, imam dan raja.

  1. Sebagai seorang nabi, Adam mampu “memikirkan perkara-perkara Allah.” Dia dapat menafsirkan karya Allah, dan menyatakan kebenaran Allah kepada semua ciptaan.
  2. Sebagai imam, Adam memberikan dirinya sebagai “persembahan yang hidup.” Dirinya sendiri dan segala sesuatu yang didapatkannya dipersembahkan kepada Allah.
  3. Sebagai seorang raja, Adam menaklukkan dan berkuasa atas segala sesuatu berdasarkan pengetahuan yang benar dan devosi yang kudus. Kegiatan Adam selaras dengan, dan mengekspresikan, kehendak Allah.

Tentu kita tidak berkata bahwa Adam menyadari ketiga jabatan dalam dirinya ini, dan kita juga tidak bermaksud menyebutnya nabi, imam dan raja dalam pengertian jabatan. Yang kita maksudkan adalah bahwa tugas sebagai nabi, imam dan raja secara implisit terdapat dalam posisi Adam sebagai kepala. Jika Adam tidak berdosa, hal ini akan semakin jelas. Tetapi kematian Adam mengakhiri semuanya.

Allah kemudian bersiap mengutus “Adam terakhir.” Dan sangat signifikan bahwa sebagian pernyataan Perjanjian Lama tentang kedatangan-Nya berpusat pada ketiga jabatan “yang diurapi” (mesias = yang diurapi), yaitu nabi, imam, dan raja. Kita percaya bahwa kerusakan manusialah yang menyebabkan Allah membuat tiga jabatan yang terpisah, yang dijabat oleh tiga suku yang berbeda, yang sebelumnya merupakan bagian yang utuh dari manusia tak berdosa.

Dengan menetapkan tiga jabatan yang berbeda antara satu sama lain, Allah dapat menyingkapkan ketidaksempurnaan manusia yang kemudian dituntut dari Anak-Nya.

Read Full Post »